Sabtu, 05 Januari 2013

PERBEDAAN INDIVIDU DALAM BELAJAR


A. Perbedaan Individu
Pada dasarnya tiap individu merupakan satu kesatuan, yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Perbedaan itu dapat dilihat dari dua segi, yakni horizontal dan vertical. Perbedaan segi horizontal adalah perbedaan individu dalam aspek mental, seperti tingkat kesadaran, bakat, minat, ingatan, emosi, dan sebagainya. Perbedaan vertikal adalah perbedaan individu dalam aspek jasmaniah, seperti: bentuk, tinggi dan besarnya badan, tenaga, dan sebagainya. Masing-masing aspek individu tersebut besar pengaruhnya terhadap kegiatan dan keberhasilan belajar.
Perbedaan individual disebabkan oleh dua faktor, ialah faktor keturunan atau bawaan kelahiran, dan faktor pengaruh lingkungan. Kedua faktor ini memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan siswa/peserta didik. Mungkin salah satu factor ada yang lebih dominan, namun tetap kedua faktor tersebut masing-masing berpengaruh, dan pada gilirannya ternyata tidak ada dua individu yang sama.
2. Jenis-jenis Perbedaan individual
Perbedaan individual menyangkut dengan berbagai aspek yang masing-masing memilki ciri-ciri tertentu;
a.       Kecerdasan, siswa yang kurang cerdas menunjukkan ciri-ciri belajar lebih lamban, memerlukan banyak latihan, membutuhkan waktu yang lebih lama untuk maju, tidak mampu melakukan abstraksi. Siswa yang memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi pada umumnya memilki perhatian yang lebih baik, belajar lebih cepat, kurang memerlukan latihan, mampu menyelesaikan pekerjaannya dalam waktu yang singkat, mampu menarik kesimpulan dan melakukan abstraksi;
b.      Bakat (aptitude), bakat mempengaruhi perkembangan individu. Untuk mengetahui bakat itu perlu diadakan tes bakat (aptitude test) pada waktu mereka mulai bersekolah. Bakat turut menentukan perbedaan hasil belajar, sikap, minat, dan lain-lain;
c.       Keadaan Jasmani, keadaan jasmani tiap siswa berbeda-beda. Perbedaan itu terdapat pada struktur badan (tinggi, berat, dan koordinasi anggota badan), cacat badan (gangguan pada penglihatan, sakit menahun, mudah pusing kepala, dan lain-lain), gangguan penyakit tertentu. Hal-hal tersebut dapat mempengaruhi efisiensi dan kegairahan belajar, mudah lelah, kurang berminat melakukan berbagai kegiatan, dan akan mempengaruhi hasil belajar;
d.      Penyesuaian Sosial dan Emosional, keadaan sosial dan emosi individu berbeda antara satu dengan yang lainnya. Berbagai sikap sosial dan emosional, adalah pendiam, pemberang, pemalu, pemberani, mudah bereaksi, senang bekerjasama, suka mengasingkan diri, mudah terpengaruh, sensitif, sedang menggatungkan diri kepada orang lain. Tingkah laku sosial dan emosional ini dapat berubah sesuai dengan kondisi dan situasi sekitarnya. Keadaan ini besar pengaruhnya terhadap kegiatan dan keberhasilan belajar siswa;
e.       Keadaan Keluarga, keadaan keluarga besar pengaruhnya terhadap individu, dan oleh karenanya terjadi perbedaan individual yang dilaterbelakangi perbedaan keadaan keluarga. Pengaruhnya terjadi pada perbedaan dalam hal-hal pengalaman sikap, apresiasi, minat, sikap ekonomis, cara berkomunikasi, kebiasaan berbicara, hubungan kerjasama, pola pikir, dan lain-lain. Perbedaan dalam hal-hal tersebut mempengaruhi tingkah laku dan perubahan belajar sekolah;
f.  Prestasi Belajar, perbedaan hasil belajar di kalangan para siswa disebabkan oleh faktor-faktor kematangan, latar belakang pribadi, sikap dan bakat terhadap pelajaran, jenis mata ajaran yang diberikan, dan sebagainya.



B. Pengaruh Faktor  Perbedaan Individu
Perbedaan-perbedaan  ini di pengaruhi oleh banyak faktor. Dalam uraian berikut ini akan di bahas perbedaan individu berdasarkan pengaruh faktor keturunan (Heriditer) /faktor bawaan, faktor lingkungan dan faktor-faktor campuran. Adapun faktor-faktornya yaitu sebagai berikut :
1. Pengaruh Faktor Keturunan (Heriditer)
Menurut para ahli Biologi bahwa terjadinya individu adalah akibat bertemunya sel jantan dan betina. Pada setiap spesies (jenis makhluk) jumlah dan bentuk chromosomenya selalu sama dan bila speciesnya berbeda, akan berbeda pula jumlah dan bentuk chromosomenya. Gene yang berasal dari sel jantan saling berpasanagn dengan gene yang berasal dari gene betina dengan cara yang berbeda beda. Cara yang berbeda beda inilah yang menyebabkan perbedaan sifat individu. Dan perbedaan sifat individu inilah yang menjadi penyebab terjadinya perbedaan individu berdasarkan faktor keturunan.
2. Pengaruh Faktor Lingkungan (Melieu)
Lingkungan dalam arti luas, meliputi lingkungan statis dan lingkungan yang bergerak/dinamis. Keadaan tempat dan alam lebih banyak bersifat statis sedangkan lingkungan sosial bersifat dinamis. Lingkungan statis membawa pengaruh  pada individu yang berbeda di lingkungan tersebut. Demikian pula lingkungan dinamis (pengaruh lingkungan sosial/manusia) juga berpengaruh terhadap orang-orang yang tinggal di lingkungan tersebut. Hal-hal semacam itu akan membuat perbedaan sifat di antara mereka.
3.  Pengaruh Faktor Campuran
Dari uraian di atas, baik uraian pertama (mengenai pngaruh faktor keturunan) maupun uraian kedua (pengaruh faktor lingkungan), ternyata bahwa baik keturunan maupun faktor lingkungan berpengaruh terhadap individu yang bersangkutan.

C. Beberapa perbedaan individu dalam kemampuan belajar dan mengingat
Dari sebagian besar perbedaan karakteristik kemampuan siswa dalam belajar dan mengingat, kami hanya akan membahas empat masalah kognitif penting yang mempengaruhi kemampuan belajar dan mengingat. Pertama, karena pemikiran populer mengenai hubungan IQ dan kemampuan belajar maka kita perlu memperhatikan pemikiran mengenai intelijensi. Selain itu juga dibahas style kognitif, strategi pembelajaran dan kemampuan mengingat.
1. Kemampuan (Intelijensi)
Uji perbedaan individu memungkinkan perhatian publik pada pengukuran kemampuan seseorang yang tentunya menghasilkan skor nilai IQ. Pada tahun 1920-an, pengujian ini sangat berguna sekali dilakukan. Banyak pendukung gerakan ini di Amerika yang kemudian dirasa bahwa seseorang yang memiliki IQ sedang hingga tinggi yang hanya dibolehkan untuk lebih produktif dibanding mereka yang memiliki keterbelakangan mental dan kelompok keterbelakangan mental ini biasanya dihindari.
Baru-baru ini pengujian yang sama ini juga dipandang sebagai instrument yang menimbulkan prasangka. Sebagian alasan untuk kedua pengukuran intelijensi ini telah menimbulkan pembingungan tentang permasalahan apa yang harus diukur. Beberapa evaluator telah membuat konsepsasi intelijensi sebagai kemampuan untuk belajar dengan cepat. Pandangan intelijensi lainnya mengindikasikan adanya tingkat kesulitan permasalahan atau soal-soal yang diberikan pada individu sesuai dengan usianya dalam mengukur kemampuan mereka menyelesaikan soal. Terkadang defenisi ini jauh lebih luas dan lebih menekan kapasitas glogal seseorang sebagai contoh kemampuan bertindak, kemampuan berfikir rasional dan kemampuan berfikir efektif dalam menanggapi seseorang. Selain itu banyak para penguji lainnya terus melawan arah pengujian ini secara lebih luas dengan mengangkat permasalahan umum dan pendefenisian operasional intelijensi secara total, seperti kemampuan dalam melakukan sesuatu dengan baik pada uji intelijensi atau apapun model ujiannya.
Bagaimana pun intelijensi, hal yang mungkin paling penting di sini adalah mengindikasikan sesuatu yang belum ada. Misalnya pernyataan yang tidak benar yang dikorelasikan dengan tingkat intelijensi dari kemampuan belajar seseorang. Penelitian mengenai tingkat kemampuan belajar seseorang mengindikasikan bahwa ada beberapa faktor pembelajaran yang diperlukan untuk memprediksikan berbagai tugas pembelajaran yang dihadapi siswa. Sejumlah model khusus dari faktor-faktor yang diperlukan ini tergantung dari jenis-jenis tugas yang diukur meliputi keahlian motorik, kemampuan belajar verbal, kemampuan mengkonsep pembelajaran, kemampuan memahami sebuah konsep dan sebagainya – yang digunakan sebagai variabel uji dalam penelitian khusus. Pendeknya, kita bisa katakan di sini tidak ada pengukuran terhadap kemampuan pembelajaran tunggal yang bisa menyebabkan ketidaktepatan dalam menginterprestasikan score IQ sebagai refleksi dari tingkat kemampuan seseorang. Fakta ini memperlihatkan bahwa orang pertama mempelajari tugas mereka dengan lebih cepat dibanding orang kedua yang bukan berarti bahwa tingkat pembelajaran mereka dapat disamakan ketika kedua orang ini dihadapkan pada tugas yang berbeda. Secara mekanismenya, siswa bisa mempelajari bagaimana mengoperasikan sebuah mesin yang kompleks dengan kecepatan lebih dibanding bagian-bagian yang berorientasi pada pemahaman akademik.
Haruslah dicatat bahwa nilai IQ berhubungan dengan ukuran belajar di sekolah. Model Test dalam Tradisi Binet masih efektif mengidentifikasi anak-anak yang mempunyai berbagai kesulitan menuju keberhasilan di sekolah tradisional. Kita harus catat bahwa fakta ini tidak perlu menyiratkan bahwa tingkat kecerdasan/inteligen adalah faktor penyebab menentukan tingkat pencapaian. Orang bisa membalikkan argumentasi itu dan mengatakan bahwa semakin seorang anak mencapai sekolah yang lebih tinggi IQ nya berperanan. Sesungguhnya, anak-anak yang belajar lebih tinggi di sekolah cenderung untuk meningkatkan tes kecerdasan/inteligen mereka beberapa tahun ini. Hal yang penting untuk tujuan kita bukanlah yang mana, juga bukan tentang variabel-variabel penyebab variabel lain, tidak ada jawaban akhir yang mungkin. Melainkan, adalah penting untuk mengetahui adanya hubungan yang kuat sedang antara kedua variabel. Ini berarti bahwa mengetahui tingkatan intelijensi perorangan akan membuat kita dapat meramalkan dengan derajat kesaksamaan beberapa tingkatan prestasi akademis, dan sebaliknya
Akhir yang harus dibuat mengenai kemampuan khusus ini adalah bahwa, walaupun mereka berbeda, mereka cenderung untuk berhubungan dengan kecerdasan/inteligen umum sampai taraf tertentu.
2. Cognitive Styles
Teori yang berhubungan erat kepada permasalahan dalam keserasian untuk belajar adalah tipe kognitif. Keserasian perorangan mungkin dipandang sebagai suatu tingkatan dari capaian intelektual, sedangkan tipe kognitif mengacu pada cara capaian atau bagaimana sesuatu menyelesaikan tugas-tugas intelektual. Sebagai contoh, individu berbeda pilihan atau kemampuan untuk belajar dari suatu cara yang dilakukan berhubungan dengan perasaan spesifik. Sebagian orang merasa paling baik belajar dari material tertulis, sedang sebagian orang yang lain merasa lebih efisien belajar dari pengolahan indera pendengar dengan isi yang sama melalui ceramah / kuliah atau siaran ulang tv dari video.
Perbedaan individu sepanjang dimensi ini ditaksir oleh suatu persepsi tugas yang mempertemukan test figur umum yang harus memilih enam pekerjaan yang sangat serupa yang mana persisnya seperti suatu figur target. Hanya satu menit dalam mencari jawaban yang benar dan salah. Ukuran waktu tanggapan untuk masing-masing individu diambil seperti halnya score ketelitian. Orang yang lebih lambat dibanding rata-rata dan siapa yang membuat lebih sedikit kesalahan dibanding rata-rata Walaupun penggolongan ini meliputi kebanyakan pengambil test, tetapi tidak meliputi semua. Beberapa individu membuat banyak kesalahan sungguhpun mereka pelan-pelan, sedang individu lain bisa bekerja dengan cukup cepat tanpa membuat banyak kesalahan.
Banyak tipe kognitif lain telah diusulkan dan diselidiki. Sebagai contoh, pembedaan di dalam tipe telah dibuat didasarkan pada tingkat dimana seseorang bereaksi pada suatu stimulus kompleks secara keseluruhan dibanding pada analisa bagian komponen (ketergantungan bidang dan kebebasan bidang) dan tingkat mana perorangan (berhenti untuk mengabaikan perubahan di dalam rangsangan berikutnya dari waktu ke waktu ( pengatur dan mempertajam). Apa yang secara khas ditemukan adalah bahwa tipe kognitif seseorang terkait tidak hanya kepada bagaimana ia belajar, tetapi juga pada keputusan penting seperti pilihan suatu lapangan kerja atau perguruan tinggi utama
3. Gaya Belajar
Strategi Belajar sebagai tambahan terhadap perbedaan di dalam karakteristik global yang mempengaruhi pelajaran, suatu faktor penentu penting dari suatu capaian individu pada tugas yang diberikan adalah strategi spesifik yang diambil untuk tugas itu. Strategi berbeda telah secara ekstensif menyelidiki dalam berbagai pelajaran dan memori tugas
Salah satu dari dua metoda secara khas digunakan untuk belajar perbedaan individu di dalam konteks ini: pokok materi di dalam eksperimen manapun hanya disangsikan menyangkut strategi mereka menggunakan suatu perbedaan dan strategi spesifik di dalam kemampuan mereka untuk menerapkan strategi itu. Di dalam prosedur yang terdahulu, strategi mungkin secara khas ditetapkan dengan mengadakan percobaan sebelum mulai eksperimen dan diatur menurut derajat tingkat kompleksitas mereka. Sebagai contoh, di dalam belajar, suatu strategi memerlukan konstruksi yang menghubungkan stimulus dan tanggapan istilah yang diatur seperti strategi yang paling rumit, sedang pengulangan boleh jadi dipandang memerlukan proses paling sedikit dengan pokok materi dan dengan begitu dapat diatur sedikit kompleks.
Studi yang menggunakan prosedur kedua sudah mencoba untuk menentukan efek instruksi untuk menggunakan jenis strategi tertentu tentang pelajaran individu yang berbeda. Yang sering terjadi, perumpamaan dan penyelesaian sengketa dengan strategi lisan telah dibandingkan dengan satu sama lain dan dengan instruksi untuk menggunakan rotasi pengulangan. Kedua perumpamaan atau instruksi penyelesaian sengketa dengan penengahan lisan mengakibatkan pelajaran dengan mantap lebih cepat dibanding instruksi dihafal dan tidak ada instruksi spesifik: Instruksi Perumpamaan juga mempunyai suatu dampak lebih besar dibanding instruksi lisan, walaupun efek nya relatif kecil.
Perbedaan Individu dalam strategi daya ingat telah pula diselidiki baru-baru ini. Dari diskusi yang lebih awal dari memori dan pelajaran lisan, kamu dapat mengantisipasi bahwa suatu perbedaan penting antar pokok di dalam tugas jenis ini adalah kemampuan mereka secara subyektif mengorganisir material.
Sebagaimana disebutkan pada bab konsep belajar, perbedaan individu antar pelajar mempunyai suatu dampak pada tingkat yang mana pelajaran terjadi: Pemilihan dari strategi yang berbeda menggunakan konteks ini, seperti memusatkan konservatif dan fokus berjudi, dihubungkan dengan kesanggupan ingatan pokok materi dan kecerdasan/inteligen umum. Paradigma Pemilihan untuk konsep pelajaran secara khas dipekerjakan untuk mengamati penggunaan dari strategi yang berbeda ini
4. Memory Ability
Perbedaan kesanggupan ingatan individu tidak hanya di dalam kemampuan mereka untuk memperoleh informasi, tetapi juga di dalam kemampuan mereka untuk mempertahankan informasi apapun yang mereka peroleh. Beberapa tahun terakhir, psikolog berbeda mengukur kecerdasan. Beberapa yang paling menarik untuk pekerjaan ini telah dilaksanakan oleh suatu regu peneliti dipimpin oleh Earl Hunt, seorang psikolog dan Clifford Lunneborg seorang psychometrician. Pendekatan dasar yang diambil oleh Earl Hunt dan Lunneborg telah menguji para siswa perguruan tinggi berbagai tugas memori. Para mahasiswa terpilih untuk masuk di dalam studi pada dasar score ekstrim mereka pada tes kecerdasan. Mereka membatasi para mahasiswa peringkat puncak yang keempat atau keempat terakhir di kelas mereka di dalam gabungan kedua-duanya yang lisan dan gabungan yang kwantitatif pada suatu pengujian pintu masuk. Penelitian Earl Hunt dan Lunneborg's mengungkapkan dua penemuan basis dasar,: satu mengenai implikasi perbedaan di dalam kemampuan lisan dan lain mengenai implikasi variasi yang berbeda di dalam kemampuan kwantitatif. Pada dasarnya, pembedaan sepertinya di dalam fungsi jenis memori pada kemampuan yang berhubungan
Pertama, kemampuan lisan tinggi secara khas menyiratkan bawah lebih besar efisiensi akan lebih besar memori jangka pendek. Sebagai contoh, mempertimbangkan apa yang terjadi ketika pokok ditampilkan dengan satu set digit dan kemudian menanyakan sesuatu sangat ringkas apakah digit tertentu adalah di dalam memori menetapkan atau bukan. (Ini adalah dasar Paradigma Sternberg menyebutkan diskusi reaksi waktu sebagai metoda belajar memori di dalam bab 4.) Kemampuan kwantitatif tinggi dan rendah tidak berbeda dalam seberapa cepat mereka menjawab tugas ini. Bagaimanapun, kemampuan lisan tinggi mempunyai waktu untuk bereaksi lebih cepat (atau pencarian / menilai lebih cepat) dibanding kemampuan lisan rendah. Fakta ini, bersama-sama dengan penemuan serupa di dalam sejumlah tugas lain, menyatakan bahwa kemampuan lisan tinggi dihubungkan dengan kecepatan pengolahan informasi lebih besar, terutama sekali di dalam situasi yang menekankan memori jangka pendek
Kedua, kemampuan kwantitatif tinggi yang secara khas menyiratkan pembalasan lebih besar untuk melupakan campur tangan. Sebagai contoh, mempertimbangkan capaian Peterson dan Tugas Peterson, yang mana digunakan untuk menilai efek dari pengacauan tugas pada memori jangka pendek. Sehubungan dengan pokok kwantitatif rendah, pokok kwantitatif tinggi mempertunjukkan daya ingat yang jauh lebih tinggi mengingat kembali informasi yang telah diperkenalkan sebelumnya. Campur tangan juga ditunjukkan pada tugas menuntut ingatan informasi jangka panjang. Sebagai contoh, walaupun kemampuan lisan adalah peramal yang lebih baik tentang berapa lama untuk memperoleh informasi yang lisan secara khas yang digunakan tugas ini, kemampuan kwantitatif yang manakah yang lebih baik dalam memperkirakan berapa banyak informasi dalam lima minggu kemudian. Dengan mengetahui kemampuan lisan seseorang, kamu dapat menaksir bahwa orang belajar tingkat tarip, sedangkan pengetahuan tentang kemampuan kwantitatif mengijinkan suatu perkiraan ingatan
Hasil ini menarik, sebab tes kecerdasan dan tugas teori yang digunakan di sini berbeda dengan pokok materi. Ini terutama sekali terjadi pada kasus kemampuan lisan. Pertanyaan pada pengujian masuk perguruan tinggi yang digunakan untuk menilai kemampuan lisan yang pada dasarnya menyinggung kepada isi dari memori jangka panjang. Sebagai contoh, seperti kebanyakan tes standar, ada mempertanyakan mengenai definisi kata-kata dan isi dari prosa,: Pada dasarnya, tes ini sedang menyelidiki isi dari memori jangka panjang. Di dalam kontras tugas teori, yang mana perbedaan tinggi dan rendahnya verbal pokok, tergantung pada tingkat pengolahan informasi di dalam memori jangka pendek, bukannya pada informasi spesifik yang menyimpan memori jangka panjang. Orang bisa mengadakan hipotesa, meskipun demikian, tidak sama sekali dibuktikan, bahwa pengolahan yang efisien dari informasi berikutnya oleh pokok lisan tinggi mengakibatkan dasar pengetahuan mereka lebih besar di dalam memori jangka panjang

BENTUK-BENTUK GEJALA PSIKOLGI SISWA DALAM BELAJAR


A.  Gejala Psikologi
Setiap orang mempunyai sisi psikologis dimana sisi ini berdampak pada hal-hal tindakannya. Atau bisa disebut gejala jiwa.  Dalam pendidikan pun gejala jiwa manusia yang mendasar banyak muncul. Gejala jiwa tersebut akan mempengaruhi berbagai perilaku  manusia, baik perilaku pendidik maupun perilaku peserta didik atau siswa. Dalam tulisan ini akan dibahas bagaimana gejala jiwa tersebut mempengaruhi kemampuan belajar siswa.
Gejala jiwa yang ada pada diri manusia sangat mempengaruhi perilakunya. Tidak terlepas dalam dunia pendidikan yaitu pada pendidik maupun peserta didik (dalam tulisan ini hanya membahas peserta didik).
Dari uraian di atas dapat kita simpulkan bahwa, Gejala Psikologi yaitu proses perubahan perilaku manusia dalam kehidupannya.

B.  Bentuk-bentuk Gejala Psikologi Siswa Dalam Belajar
            Dalam psikologi terdapat berbagai gejala-gejala yang berhubungan dengan kegiatan belajar siswa, diantaranya yang akan kita bahas yaitu: 1) Pengindraan/sensasi dan persepsi; 2) Memori, ingatan, dan lupa; 3) Berfikir; 4) Intelegensi; 5) gejala perasaan (emosi); 6) Motivasi.
      1.   Pengindraan/sensasi dan persepsi
      a.   Pengindraan                     
          Kemampuan otak untuk menerjemahkan stimulus seorang anak satu sama lain berbeda-beda, tidak semua stimulus dapat diindra. Begitu pelajaran yang disampaikan guru tidak semua bisa ditangkap oleh siswa, persepsi pun akan berlainan. Hal ini juga mempengaruhi kemampuan belajar.
Definisi penginderaan (sensation) menurut Wundt adalah penangkapan terhadap rangsang-rangsang dari luar dan dapat dianalisa sampai elemen-elemen yang terkecil. Penginderaan meliputi  :
      1).  Penglihatan
                  Alat penglihatan utama adalah mata. Rangsang berupa gelombang cahaya masuk ke dalam bola mata melalui bagian-bagian mata. Prosesnya cahaya masuk ke retina diteruskan berupa impuls menuju ke syaraf (otak) sehingga  objek dapat terlihat.
      2).  Pendengaran
                  Alat pendengaran utama adalah telinga. Rangsang berupa gelombang suara masuk ke dalam telinga melalui bagian-bagian alat pendengaran.Gelombang suara merambat melalui 3 media, yaitu udara, benda padat/tulang, cairan/endolymphe
Bila seseorang tidak dapat mendengar, maka ada kemungkinan kerusakan pada pusat pendengaran yang menyebabkan gangguan fungsi intelek atau pada salah satu alat tempat berjalannya/penerus rangsang (conductive deafness) yang tidak ada hubungannya dengan fungsi intelek.
3).  Pengecap
            Alat pengecap utama adalah lidah. Rangsang berupa larutan cairan melalui lidah (lingua) dan rongga mulut (cavumroris). Prosesnya adalah larutan/cairan diterima lidah masuk ke rongga mulut diteruskan nervus ke-9 menuju gyrus centralis posterior (pusat sensibilitas di kulit otak). Reseptor pada lidah ada 4 jenis penerima rangsang, yaitu : rasa manis, pahit, asin dan asam.
      4).  Pembau
                  Alat pembau utama adalah hidung.  Rangsang berupa hawa/udara/bau melalui udara menuju ke reseptor yang ada di rongga hidung (cavum nasalis). Prosesnya adalah bau diterima oleh rongga hidung diteruskan oleh nervus ke-1 (saraf pembau) menuju gyrus centralis posterior (pusat sensibilitas di kulit otak).
5).  Perabaan
            Alat perabaan utama adalah kulit. Rangsang yang diterima tubuh manusia dapat berupa rangsang : mekanis, thermis, chemis, elektris, suara, cahaya. Perabaan adalah ransang mekanis ringan pada bagian permukaan tubuh, khususnya yang tidak berambut seperti telapak kaki, bibir,dll. Reseptornya adalah corpuscula meissner dan corpuscula pacini.
b.      Persepsi
      Persepsi adalah sebuah proses saat ataupun kimiawi yang mengenai alat indra. individu mengatur dan menginterpretasikan kesan-kesan sensoris mereka guna memberikan arti bagi lingkungan mereka. Perilaku individu seringkali didasarkan pada persepsi mereka tentang kenyataan, bukan pada kenyataan itu sendiri.
      Definisi persepsi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah tanggapan (penerimaan) langsung dari sesuatu atau proses seseorang mengetahui beberapa hal melalui panca inderanya. Persepsi menurut Davidoff dalam Walgito (1997) : stimulus yang diindera oleh individu diorganisasikan, kemudian diinterpretasikan sehingga individu sadar, mengerti tentang apa yang diinderakan. Individu dapat mengadakan persepsi, jika adanya objek, alat indera (reseptor), dan  perhatian. Contoh persepsi misalnya meja yang terasa kasar, yang berarti sebuah sensasi dari rabaan terhadap meja.
2.   Memori, ingatan, dan lupa
            Setiap hari kita memilki banyak aktivitas, berbagai informasi kita peroleh setiap harinya. Untuk memunculkan kembali informasi-informasi tersebut terkait dengan kerja memori atau otak. Dalam kenyataan, kemampuan otak manusia berbeda-beda. Siswapun seperti itu. Kemampuan otak untuk memasukkan, menyimpan,  memunculkan kembali informasi yang didapatkan (pelajaran misalnya) mempengaruhi kemampuan belajar si anak tersebut.


      a.         Memori
            Memori merupakan simpanan informasi - informasi yang diperoleh dan diserap dari lingkungan yang kemudian diolah sesuai dengan individu yang bersangkutan. Memory juga merupakan suatu proses biologi, yakni informasi diberi kode dan dipanggil kembali. Pada dasarnya juga memory adalah sesuatu yang membentuk jati diri manusia dan membedakan manusia dari mahluk hidup lainnya. Memory memberi manusia kemampuan mengingat masa lalu, dan perkiraan pada masa depan. Memory merupakan kumpulan reaksi elektrokimia yang rumit yang diaktifkan melalui beragam saluran indrawi dan disimpan dalam jaringan syaraf yang sangat rumit dan unik di seluruh bagian otak. Memory yang sifatnya dinamis ini terus berubah dan berkembang sejalan dengan bertambahnya informasi yang disimpan. Secara umum usaha-usaha untuk meningkatkan kemampuan memori harus memenuhi tiga ketentuan sebagai berikut:
1).  Proses memori bukanlah suatu usaha yang mudah. Mekanisme dalam proses mengingat sangat membantu organisme dalam menghadapi berbagai persoalan sehari-hari. Seseorang dikatakan “belajar dari pengalaman” karena ia mampu menggunakan berbagai informasi yang telah diterimanya di masa lalu untuk memecahkan berbagai persoalan yang dihadapinya saat ini.
2).  Bahan-bahan yang akan diingat harus berhubungan. Memori sangat dibantu bila informasi yang dipelajari mempunyai kaitan dengan hal-hasl yang sudah dikenal sebelumnya. Konteks dapat berupa peristiwa, tempat, nama sesuatu, perasaan tertentu dan lain-lain. Konteks ini memberikan retrievel cues atau karena itu mempermudah recognition.
3).  Proses memori memerlukan organisasi. Salah satu pengorganisasian informasi yang sangat dikenal adalah memori. Informasi diorganisasi sedemikian rupa (dihubungkan dengan hal-hal yang sudah dikenal) sehingga informasi yang kompleks mudah untuk diingat kembali.

            b.   Ingatan
            Secara sederhana, Irwanto (1999) mendefinisikan ingatan sebagai kemampuan untuk menyimpan informasi sehingga dapat digunakan lagi di masa yang akan datang. Galotti (2004) mendefinisikan memori sebagai suatu proses kognitif yang terdiri atas serangkaian proses, yakni : penyimpanan (storage), retensi, dan  pengumpulan informasi (information gathering).
            Sebagai suatu proses, memori menunjukkan suatu mekanisme dinamik yang diasosiasikan dengan penyimpanan (storing), pengambilan (retaining), dan pemanggilan kembali (retrieving) informasi mengenai pengalaman yang lalu (Bjorklund, Schneider, & Hernández Blasi, 2003; Crowder, 1976, dalam Stenberg, 2006). Santrock (2005) mendefinisikan ingatan sebagai retensi informasi yang telah diterima melalui tahap : penkodean (encoding), penyimpanan (storage), dan pemanggilan kembali (retrieval). Penelitian ini menggunakan definisi ingatan menurut Santrock, yaitu informasi-informasi yang berasal dari lingkungan dan informasi ini akan diproses melalui         tahapan : penkodean, penyimpanan, dan pemanggilan kembali sehingga informasi yang masuk tidak terbuang secara sia – sia.
      c.   Lupa
            Lupa (forgetting) ialah hilangnya kemampuan untuk menyebut atau memproduksi kembali apa-apa yang sebelumnya telah kita pelajari. Gulo (1982) dan Reber (1988) mendefinisikan lupa sebagai ketidakmampuan mengenal atau mengingat sesuatu yang pernah dipelajari atau dialami. Jadi lupa bukanlah peristiwa hilangnya item informasi dan pengetahuan dari akal kita.
Faktor-faktor Penyebab Lupa :
a.   Lupa dapat terjadi karena gangguan konflik antara item-item informasi atau materi yang ada dalam sistem memori.
b.   Lupa dapat terjadi pada karena adanya tekanan terhadap item yang telah ada, baik sengaja ataupun tidak. Penekanan ini dapat terjadi karena item informasi yang berupa pengetahuan tanggapan atau kesan dan sebagainya yang diterima siswa kurang menyenangkan, sehingga ia dengan sengaja menekannya sehingga ke alam ketidaksadaran.
c.   Lupa dapat terjadi karena perubahan situasi lingkungan antara waktu belajar dengan waktu mengingat kembali (Andreson 1990).
     Contoh lupa ini sering terjadi pada siswa (kita) yang menerapkan metode belajar SKS (Sistem Kebut Semalam) :DKita belajar ngebut malam ini, memasukkan semua pelajaran dalam sekali kunyah kedalam otak. Nah, ketika tes keesokan harinya, apa yang telah diingat dan pelajari (walaupun pelajaran minggu lalu) bisa hilang, diakibatkan dari apa yang telah kita pelajari semalam.
d.   Lupa dapat terjadi karena perubahan sikap dan minat terhadap proses dan situasi belajar tertentu..
e.   Lupa dapat terjadi karena materi pelajaran yang telah dikuasai tidak pernah digunakan atau dihafalkan (Hilgard & Bower 1975)
f.    Lupa dapat tejadi karena perubahan urat syaraf otak.

3.   Berfikir
            Pemecahan masalah merupakan  bagian dari proses berpikir. Sering dianggap merupakan proses paling kompleks di antara semua fungsi kecerdasan, pemecahan masalah telah didefinisikan sebagai proses kognitif tingkat tinggi yang memerlukan modulasi dan kontrol lebih dari keterampilan-keterampilan rutin atau dasar. Proses ini terjadi jika suatu organisme atau sistem kecerdasan buatan tidak mengetahui bagaimana untuk bergerak dari suatu kondisi awal menuju kondisi yang dituju. Berfikir kreatif sangat berperan dalam pemecahan masalah. [5]Menurut Graham Wallas (dalam Morgan, at al. 1989), proses berfikir kreatif meliputi lima tahap, yaitu Persiapan (Preparation), Inkubasi (Incubation), Iluminasi (Ilumation), Evaluasi (Evaluation), Revisi (Revision).
            Definisi yang paling umum dari berfikir adalah berkembangnya ide dan konsep (Bochenski, dalam Suriasumantri (ed), 1983:52) di dalam diri seseorang. Perkembangan ide dan konsep ini berlangsung melalui proses penjalinan hubungan antara bagian-bagian informasi yang tersimpan di dalam didi seseorang yang berupa pengertian-perngertian. Dari gambaran ini dapat dilihat bahwa berfikir pada dasarnya adalah proses psikologis dengan tahapan-tahapan berikut : (1) pembentukan pengertian, (2) penjalinan pengertian-pengertian, dan (3) penarikan kesimpulan.
4.   Intelegensi
            Setelah kita membahas tentang berpikir, maka kaitan dengan masalah berpikir adalah inteligensi. Secara umum inteligensi adalah kesanggupan untuk berpikir. Ada beberapa pendapat tentang pengertian inteligensi.
a.   William Stern mengatakan, bahwa inteligensi adalah kesanggupan jiwa untuk dapat menyesuaikan diri dengan situasi-situasi baru.
b.      V. Hees, bahwa inteligensi adalah sifat kcerdasan jiwa.
c.       Terman mengatakan, inteligensi adalah kesanggupan untuk belajar secara abstrak.
d.      Binet mengatakan bahwa  inteligensi meliputi pengertian penemuan sesuatu yang baru, ketetapan hati dan pengertian diri sendiri.
e.       Staedworth mengatakan inteligensi ada 3 aspek yaitu pengenalan sesuatu yang penting, penyusunan diri dengan situasi baru dan ingatan.
f.       Wittherington mengatakan, inteligensi adalah suatu konsep, suatu pengertian.
g.      Menurut David Wechsler, inteligensi adalah kemampuan untuk bertindak secara terarah, berpikir secara rasional, dan menghadapi lingkungannya secara efektif.
Dari berbagai definisi intelegensi yang dikemukakan oleh ahli-ahli yang berbeda-beda, para ahli sepakat memandang intelegensi sebagai kemampuan berfiki seseorang. Yaitu dalam menyesuaikan diri, belajar, atau berpikir abstrak. Intelegensi juga mempengeruhi kemampuan belajar seseorang.
Secara garis besar dapat disimpulkan bahwa inteligensi adalah suatu kemampuan mental yang melibatkan proses berpikir secara rasional. Oleh karena itu, inteligensi tidak dapat diamati secara langsung, melainkan harus disimpulkan dari berbagai tindakan nyata yang merupakan manifestasi dari proses berpikir rasional itu.
5.   Emosi
            Istilah emosi menurut Daniel Goleman (1995), seorang pakar kecerdasan emosional, yang diambil dari Oxford English Dictionary memaknai emosi sebagai setiap kegiatan atau pergolakan pikiran, perasaan, nafsu, setiap keadaan mental yang hebat dan meluap-luap. Atau dapat kita pahami bahwa emosi itu merupakan suatu gejolak atau rasa yang terjadi dalam hati/perasaan yang terjadi karena ada suatu rangsangan yang diberikan pada saat kita dalam keadaan mental yang hebat.
            Adapula yang mengatakan emosi itu adalah suatu perasaan intens yang ditujukan kepada seseorang atau sesuatu. Emosi adalah reaksi terhadap seseorang atau kejadian. Emosi dapat ditunjukkan ketika merasa senang mengenai sesuatu, marah kepada seseorang, ataupun takut terhadap sesuatu.
6.   Motivasi
            Motivasi adalah keadaan dalam diri subjek didik yang mendorongnya untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu. Motivasi boleh jadi timbul dari rangsangan luar, seperti pemberian hadiah bila seseorang dapat menyelesaikan satu tugas dengan baik. Motivasi semacam ini sering disebut motivasi ekstrensik. Tetapi tidak jarang pula motivasi tumbuh di dalam diri subjek didik sendiri yang disebut motivasi intrinsik. Misalnya, seorang subjek didik gemar membaca karena dia memang ingin mengetahui lebih dalam tentang sesuatu.
            Menurut Baron (1992), Motivasi adalah proses yang memberi semangat, arah, dan kegigihan perilaku. Artinya, perilaku yang termotivasi adalah perilaku yang penuh energi, terarah, dan bertahan lama.  Kekuatan yang memberikan energi dan mengarahkan perilaku untuk mencapai tujuan. Keadaan internal yang mendorong, mengarahkan, dan mempertahankan perilaku. Berikut adalah pengertian motivasi dari berbagai perspektif dalam psikologi.
            Dalam konteks belajar, motivasi intrinsik tentu selalu lebih baik, dan biasanya berjangka panjang. Tetapi dalam keadaan motivasi intrinsik tidak cukup potensial pada subjek didik, pendidik perlu menyiasati hadirnya motivasi-motivasi ekstrinsik. Motivasi ini, umpamanya, bisa dihadirkan melalui penciptaan suasana kompetitif di antara individu maupun kelompok subjek didik. Suasana ini akan mendorong subjek didik untuk berjuang atau berlomba melebihi yang lain.Namun demikian, pendidik harus memonitor suasana ini secara ketat agar tidak mengarah kepada hal-hal yang negatif.
            Motivasi ekstrinsik bisa juga dihadirkan melalui siasat “self competition”, yakni menghadirkan grafik prestasi individual subjek didik. Melalui grafik ini, setiap subjek didik dapat melihat kemajuan-kemajuannya sendiri. Dan sekaligus membandingkannya dengan kemajuan yang dicapai teman-temannya.Dengan melihat grafik ini, subjek didik akan terdorong untuk meningkatkan prestasinya supaya tidak berada di bawah prestasi orang lain.
      Jenis-jenis Motivasi
a.       Motivasi Intrinsik
            Motivasi intrinsik adalah motivasi internal untuk melakukan sesuatu demi sesuatu itu sendiri (tujuan itu sendiri), motivasi yang didasarkan pada sebuah ‘nilai’ dari kegiatan yang dilakukan tanpa melihat penghargaan dari luar. Misalnya: Murid mungkin belajar menghadapi ujian karena dia senang pada mata pelajaran yang diujikan itu sendiri. Ada 2 jenis motivasi intrinsik:
1).  Determinasi diri
            Dalam pandangan ini, murid ingin percaya bahwa mereka melakukan sesuatu karena kemauan sendiri, bukan karena kesuksesan atau imbalan eksternal. Disini, motivasi internal dan minat intrinsik dalam tugas sekolah naik apabila murid punya pilihan dan peluang untuk mengambil tanggung jawab personal atas pembelajaran mereka.         
2).  Pilihan personal
            Pengalaman optimal ini berupa perasaan senang dan bahagia yang besar. Pengalaman optimal ini kebanyakan terjadi ketika orang merasa mampu menguasai dan berkonsentrasi penuh saat melakukan suatu aktivitas. Pengalaman optimal ini terjadi ketika individu terlibat dalam tantangan yang mereka anggap tidak terlalu sulit tetapi juga tidak terlalu mudah.
b.      Motivasi Ekstrinsik
            Motivasi ekstrinsik adalah melakukan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu yang lain (cara untuk mencapai tujuan). Motivasi entrinsik ini sering dipengaruhi oleh insentif eksternal seperti imbalan (reward) dan hukuman. Imbalan eksternal dapat berguna untuk mengubah perilaku. Fungsi imbalan adalah sebagai insentif agar mau mengerjakan tugas, di mana tujuannya adalah mengontrol perilaku murid. Contohnya : guru memberi reward permen kalau murid bisa menjawab pertanyaan dengan baik. Tetapi tentu kita juga menginginkan motivasi siswa adalah motivasi yang memang berasal dari dirinya sendiri (intrinsik), hal ini bisa dilakukan dengan cara memberikan hadiah yang mengandung informasi tentang kemampuan murid sehingga motivasi instrinsik dapat meningkat, kenapa? Karena dengan memberikan pujian dapat juga meningkatkan perasaan bahwa diri mereka kompeten.