Selasa, 29 Januari 2013

TEORI – TEORI BELAJAR PSIKOLOGI


KATA PENGANTAR
Teori belajar selalu bertolak belakang dari suatu pandangan psikologi belajar tertentu. Dengan berkembangnya psikologi dalam pendidikan, maka berbarengan dengan itu bermunculan pula berbagai teori tetang balajar. Justru dapat dikatakan, bahwa dengan tumbuhnya pengetahuan tentang belajar, maka psikologi dalam pendidikan menjadi berkembang secara pesat. Didalam masa perkembangan psikologi pendidikan dizaman mutakhir ini muncullah secara beruntun beberapa aliran psikologi pendidikan, masing – masing yaitu :
1.        Psikologi behavioristik
2.        Psikologi kognitif
3.        Psikologi humanistik.
Ketiga aliran psikologi pendidikan itu tumbuh dan berkembang secara beruntun, dari periode ke periode barikutnya. Dalam setiap periode perkembangan aliran psikologi tersebut bermunculan teori – teori tentang belajar. Bertolak dari kenyataan itu, maka berbagai teori belajar yang ada dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok teori belajar, masing – masing yaitu :
1.        Teori belajar dari Psikologi behavioristik
2.        Teori belajar dari  Psikologi kognitif
3.        Teori belajar dari psikologi humanistic
Masing – masing dari kelompok teori belajar tersebut akan diuraikan secara gari besar pada pembahasan.

 
BAB I
PENDAHULUAN
A.      ALASAN PEMILIHAN JUDUL
Dalam menyusun makalah ini penulis memilih judul TEORI – TEORI BELAJAR PSIKOLOGI BEHAVIORISTIK, KOGNITIF DAN HUMANISTIK. Hal memotivasi penulis dalam menyusun makalah ini untuk mengetahui teori - teori dalam belajar.

B.       TUJUAN PENULISAN

1.         Memenuhi tugas mata kuliah psikologi pendidikan.

2.         Mengetahui teori – teori dalam belajar.

 

C.      METODE PENULISAN

Metode yang kami gunakan dalam menulis makalah ini adalah dengan menggunakan metode pustaka yaitu dengan mengumpulkan data dari buku – buku yang ada.

 

D.      RUMUSAN MASALAH

Penulis akan membahas dan menjelaskan tentang teori – teori dalam belajar :

1.    Teori – teori belajar psikologi behavioristik
2.    Teori – teori belajar psikologi kognitif
3.    Teori belajar dari psikologi humanistik




BAB II
PEMBAHASAN
A.  TEORI – TEORI BELAJAR PSIKOLOGI BEHAVIORISTIK
Dikemukakan oleh psikolog behaviristik yang sering disebut “contempory behaviorists” atau “S-R psychologists” berpendapat, bahwa tingkah laku manusia itu dikendalikan oleh ganjaran (reword) atau penguatan (reinforcement) dari lingkungan. Dengan demikian, tingkah laku belajar terdapat jalinan yang erat antara reaksi – reaksi behavioral dengan stimulasinya.
1.    Teori Yang Mengawali Perkembangan Psikologi Behavioristik
Psikologi ini mulai mengalami perkembangan dengan lahirnya teori tentang belajar yang dipelopori oleh Thomdike, Paviov, Wabon, dan Ghuthrie. Teori belajar Thomdike (1874 – 1949) di AS yang disebut “connectionism” atau “trial-and-error” karena belajar merupakan proses pembentukan koneksi – koneksi antara stimulus dan respon. Ciri – ciri belajarnya antara lain :
a.    Ada motif pendorong aktivitas.
b.    Ada berbagai respon terhadap situasi.
c.    Ada eliminasi respon – respon yang gagal/ salah.
d.   Ada kemajuan reaksi – reaksi mencapai tujuan.
Dari penelitiannya Thomdike menemukan hukum – hukum :
1.    “Law of readiness” : Jika reaksi terhadap stimulus didukung oleh kesiapan untuk bertindak atau bereaksi itu, maka reaksi menjadi memuaskan.
2.    “Law of exercise” : makin banyak dipraktekkan atau digunakannya hubungan stimulus respon, makin kuat hubungan itu. Praktek perlu disertai dengan “reward”.
3.    “Law of effect” : bilamana terjadi hubungan antara stimulus dan repon dan dibarengi dengan “state of affairs” yang memuaskan, maka hubungan itu terjadi lebih kuat. bilamana terjadi hubungan dibarengi dengan “state of affairs” yang mengganggu, maka kekuatan hubungan menjadi berkuarang.
Sementara itu di Rusia Ivan Pavlov (1849 – 1936) juga menghasilkan teori belajar yang disebut “clasical conditioning” atau “stimulus substitution” berkembang dari percobaan laboratoris terhadap anjing yang diberi stimuli bersyarat sehingga terjadi reaksi bersyarat pada anjing.
John B. Watson (1878 – 1958) adalah orang AS yang mengembangkan teori belajar berdasarkan hasil penelitian Pavlov. Watson berpendapat, bahwa belajar merupakan proses terjadinya refleks – refleks dan reaksi – reaksi emosional berupa takut, cinta, dan marah. Semua tingkah laku lainnya terbentuk oleh hubungan – hubungan stimulus – respon baru melalui “conditioning”.
Operant conditioning adalah suatu situasi belajar dimana suatu respons dibuat lebih kuat akibat reinforcement.

2.        Skinner’s Operant Conditioning
Skinner’s juga menganggap “reward” atau “reinforcement” sebagai faktor terpenting dalam proses belajar. Ia berpendapat bahwa tujuan psikologi pendidikan adalah meramal dan mengontrol tingkah laku
Skinner’s membagi dua jenis respons dalam proses belajar, yakni :
1.    Respondents : respons yang terjadi karena stimuli khusus misal Pavlov
2.    Operants : respons yang terjadi karena situasi random.
Jenis – jenis stimuli :
1.    Positive reinforcement : penyajian stimuli yang meningkatkan probabilitas suatu respons.
2.    Negative reinforcement : pembatasan stimuli yang tidak menyenangkan
3.    Hukuman : pemberian stimulus yang tidak menyenangkan
4.    Primary reinforcement : stimuli pemenuhan kebutuhan – kebutuhan fisiologis
5.    Secondary or learned reinforcement
6.    Modivikasi tingkah laku guru : perlakuan guru terhadap murid – murid berdasarkan minat dan kesenangan mereka.
Ada 4 cara penjadwalan reinforcement menguraikan tentang kapan dan bagaimana sutau respons diperbuat?
1.    “Fixed – ratio schedule” : yang didasarkan pada penyajian bahan pelajaran, pemberi reinforcement baru memberikan penguatan respons setelah terjadi jumlah tertentu dari respons.
2.    “Variable ratio schedule” : yang didasarkan pada penyajian bahan pelajaran dengan penguat setelah sejumlah rata – rata respons.
3.    “Fixed – interval schedule” : yang didasarkan atas satuan waktu tetap diantara “reinforcement”
4.    “Variable interval schedule” : pemberian reinforcement menurut respons betul yang pertama setelah terjadi kesalahan – kesalahan respons.

B.  TEORI – TEORI BELAJAR PSIKOLOGI KOGNITIF
Para ahli jiwa aliran kognitif berpendapat, tingkah laku seseorang senantiasa didasarkan pada kognisi, yaitu tindakan mengenal atau memikirkan situasi  dimana tingkah laku itu terjadi tidak hanya dikontrol oleh reward dan reinforcement.
1.    Teori belajar cognitive field dari lewin
Kurt Lewin (1892 – 1947) mengembangkan suatu teori belajar cognitive field Lewin memandang masing – masing individu berada didalam suatu medan kekuatan, yang bersifat psikologis. Medan kekuatan psikologis dimana individu beraksi disebut life space yang mencakup perwujudan lingkungan dimana individu bereaksi.


2.    Teori belajar cognitive Develop mental dari Piaget
Piaget memandang bahwa proses belajar berfikir sebagai aktivitas gradual dari fungsi intelektual dari konkret menuju abstrak.
Piaget memakai istilah Scheme secara interchangeably dengan istilah struktur. Scheme adalah pola tingkah laku yang dapat diulang yang berhubungan dengan refleks – refleks pembawaan dan Scheme mental.

Menurut Piaget, intelegensi itu sendiri terdiri dari tiga aspek yaitu :
a.    Struktur disebut juga Scheme.
b.    Isi atau content yaitu pola tingkah laku spesifik tat kala individu menghadapi suatu masalah.
c.    Fungsi atau function yaitu yang berhubungan dengan cara seseorang mencapai kemajuan intelektual.
Piaget mengidentifikasi empat faktor yang mempengaruhi transisi tahap perkembangan anak yaitu :
1.    Kematangan
2.    Pengalaman fisik atau lingkungan
3.    Transmisi sosial
4.    Equalibrium atau self regultion.

3.    Jerome Bruner dengan discovely learning-nya
Yang menjaadi dasar ide Jerome Bruner ialah pendapat dari Piaget didalam belajar dikelas. Jerome Bruner memakai cara dengan discovery learning, dimana murid mengorganisasi bahan yang dipelajari dengan suatu bentuk akhir. Prosedur ini berbeda dengan reseption learning atau expository teaching dimana guru menerangkan semua informasi dam murid harus mempelajari semua bahan atau informasi itu.
The act of discovery dari Bruner
1.    Adanya suatu kenikan didalam potensi intelektual.
2.    Ganjaran intrinsik lebih ditekankan daripada ekstrinsik.
3.    Murid yang mempelajari bagaimana menemukan berarti murid itu menguasai metode discovery learning.
4.    Murid labih senang mengingat – ingat informasi.

C.  TEORI BELAJAR DARI PSIKOLOGI HUMANISTIK
1.    Orientai
Perhatian psikologi Humanistik yang terutama tertuju pada masalah bagaimana tiap – tiap individu dipengaruhi dan dibimbing oleh maksud – maksud pribadi yang mereka hubungkan kepada pengalaman – pengalaman merekan sendiri dan sesuai perasaan dan perhatian siswa. Tujuan utamanya adalah membantu siswa untuk mengembangkan dirinya sebagai manusia yang unik dan membantunya dalam mewujudkan potensi – potensi yang ada pada diri mereka (Hamachek, 1977, P.148)

2.    Awal timbulnya psikologi Humanistik
Pada akhir tahun 1940-an orang – orang yang terlibat dalam penerapan psikologilah yang berjasa dalam perkembangan ini. Misalnya : psikologi klinik, pekerja sosial dan konseler. Gerakan ini berkembang kemudian dikenal dengan sebagai psikologi Humanistik, eksestensial, perceptual, atau fenomenologikal. Psikologi ini berusaha untuk memahami perilakuseseorang dari sudut si pelaku     ( behaver) bukan dari pngamat (observer).

3.    Behaviorisme versus humanistik
Dalam menyoroti masalah perilaku, ahli – ahli Behaviorisme dan humanistik mempunyai pandangan yang sangat berbeda yang dikenal sebagi freedomdetermination issue. Para behaviorist memandang bahwa orang sebagai makhluk reaktif yang memberikan responsnya terhadap lingkungannya. Sebaliknya para Humanistik meemandang bahwa tiap orang itu menentukan perilaku merekan sendiri.

 



 BAB III
PENUTUP
A.  Kesimpulan
1.    Teori – Teori Belajar Psikologi Behavioristik
Psikolog behaviristik berpendapat, bahwa tingkah laku manusia itu dikendalikan oleh ganjaran (reword) atau penguatan (reinforcement) dari lingkungan. Dengan demikian, tingkah laku belajar terdapat jalinan yang erat antara reaksi – reaksi behavioral dengan stimulasinya.
Psikologi ini dipelopori oleh Thomdike, Paviov, Wabon, dan Ghuthrie. Teori belajar Thomdike (1874 – 1949) di AS yang disebut “connectionism” atau “trial-and-error”. Ciri – ciri belajarnya antara lain :
a.    Ada motif pendorong aktivitas.
b.    Ada berbagai respon terhadap situasi.
c.    Ada eliminasi respon – respon yang gagal/ salah.
d.   Ada kemajuan reaksi – reaksi mencapai tujuan.
Dari penelitiannya Thomdike menemukan hukum – hukum :
1.    Law of readiness
2.  Law of exercise
3.  Law of effect
Skinner berpendapat bahwa tujuan psikologi pendidikan adalah meramal dan mengontrol tingkah laku. Jenis – jenis stimuli :
1.    Positive reinforcement
2.    Negative reinforcement
3.    Hukuman
4.    Primary reinforcement
5.    Secondary or learned reinforcement
6.    Modivikasi tingkah laku guru
Ada 4 cara penjadwalan reinforcement
1.    Fixed – ratio schedule.
2.    Variable ratio schedule.
3.    Fixed – interval schedule
4.  Variable interval schedule

2.    Teori – Teori Belajar Psikologi Kognitif
Para ahli jiwa aliran kognitif berpendapat, tingkah laku seseorang senantiasa didasarkan pada kognisi, yaitu tindakan mengenal atau memikirkan situasi  dimana tingkah laku itu terjadi tidak hanya dikontrol oleh reward dan reinforcement.
Menurut Piaget, intelegensi itu sendiri terdiri dari tiga aspek yaitu : Struktur disebut juga Scheme, Isi atau content dan Fungsi atau function .
Piaget mengidentifikasi empat faktor yang mempengaruhi transisi tahap perkembangan anak yaitu :
a.    Kematangan
b.    Pengalaman fisik atau lingkungan
c.    Transmisi sosial
d.   Equalibrium atau self regultion.
The act of discovery dari Bruner
1.    Adanya suatu kenikan didalam potensi intelektual.
2.    Ganjaran intrinsik lebih ditekankan daripada ekstrinsik.
3.    Murid yang mempelajari bagaimana menemukan berarti murid itu menguasai metode discovery learning.
4.    Murid labih senang mengingat – ingat informasi.

3.    Teori Belajar Dari Psikologi Humanistik
Tujuan utamanya adalah membantu siswa untuk mengembangkan dirinya sebagai manusia yang unik dan membantunya dalam mewujudkan potensi – potensi yang ada pada diri mereka (Hamachek, 1977, P.148)
Tokoh – tokoh humanistik
1.    Combs
2.    Maslov
3.    Rogers




BAB IV
DAFTAR PUSTAKA

Ø  Sri Rumini, dkk. 2006. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta : UNY  Press

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar